Watch the clouds wept of my bitter
struggle to ITS
Detik
berlalu memaksa matahari terbit dan tenggelam, malam terpaksa mengalah kala
siang ingin bangkit memancarkan keangkuhan sang mentari, alam bebas seakan
tergesa-gesa mendesak insan hidup untuk berdiri lantas berlari, pilu dan
keringat yang menetes, riang gemercik
air yang berpura-pura tuli dan tak beri waktu bicara menjadi saksi bisu kala
awan menangis menyaksikan getirnya sang pejuang hidup merebut mimpi menyambut
esok yang sarat arti.
Siapa
saya tidak penting disini, tetapi semoga apa yang tulis disini dapat memberikan
motivasi bagi khalayak. Sekedar untuk
sapaan akrab panggil saja saya Abishaka. Lain kali saya akan beri tahu kenapa
saya ingin dipanggil dengan sebutan itu.
Kawan,
saya menulis ini bukan atas dasar saya pamer kesedihan dan menarik simpati
orang agar iba, bukan pula untuk belagu memposisikan diri saya menjadi guru,
tetapi saya hanya ingin berbagi pengalaman betapa sudah sepantasnya kita
bersyukur kepada Alloh SWT. Brsyukur atas waktu yang masih diberikannya agar
kita senantiasa berdzikir dan berfikir.
Saya
mulai kisah hidup saya di bangku Sekolah Dasar (SD). Saya sekolah di salah satu
sekolah agama swasta kala itu. Sekolah itu bernama MI Padamulya. Sekolah sederhana
dengan fasilitas yang terbatas dan tenaga pengajar yang apa adanya. Berada di
lereng Gunung Salak, Ciamis, Jawa Barat dan perlu kiloan meter agar sampai ke
jalan raya. Kehidupan saya kala itu masih sama seperti kebanyakan anak seusia
saya. Bermain, belajar, minggat sekolah , dsb. Bahkan saya merasa kala itu saya
ini orang yang bodoh sebab dari sekian kali pembagian rapor angka 13 dan 14
adalah teman setia saya dari kelas satu sampai kelas tiga. Akan tetapi, kehidupan
saya yang sebenarnya di mulai ketika saya duduk di bangku kelas tiga. Kedua
orang tua saya bercerai yang saya kala itu belum tahu apa-apa sebab mereka
sampai harus berpisah, padahal mereka sudah punya empat orang anak. Saya anak
kedua dari empat bersaudara itu. Sejak saat itu kehidupan keluarga jauh berbeda
dari sebelumnya. Saya dipaksa dewasa dan hidup tegar menjalani keseharian hanya
bersama sosok ibu. Sosok ibu yang mulia mencari nafkah sendiri menghidupi
anak-anaknya berjualan kerupuk, gorengan, dan pernah pula menjadi pembantu
rumah tangga. Semoga Alloh SWT memuliakan derajat mu ibu. Engkau adalah malaikat
dalam kehidupan anak-anakmu.
Saya
tidak tahu kenapa sejak saat itu ayah saya jadi pengangguran. Singkatnya, toko
keluarga kami di Bandung mengalami gulung tikar dan ini pula yang menjadi
penyebab mereka bercerai. Seiring berjalannya waktu, terdengar kabar bahwa ibu
akan menikah lagi. Takut sekali rasanya saya kala itu karena yang ada dalam
otak polosku waktu itu adalah ibu dan ayah tiri itu jahat dan suka menyiksa
anak tiri bahkan tega mengusirnya kalau mereka nakal. Persis dengan apa yang
sering ditayangkan di sinetron-sinetron.
Dari
sana, saya memutuskan untuk tinggal bersama nenek di Majalengka. Akan tetapi,
keadaan tak seperti yang diharapkan. Harapan agar saya mendapat kehidupan yang
lebih baik ternyata tidak mengarah pada saya kala itu. Tekanan dari mereka
justru lebih parah dari apa yang saya rasakan dari kehidupan lapar saya di
Ciamis. Saya benar-benar dipaksa dewasa. Sekali lagi dipaksa dewasa. Saya
sering tidak masuk sekolah karena saya harus pergi ke sawah membantu nenek
panen kacang, cabai, dan padi. Tidak masalah bagi saya melakukan hal-hal itu
karena dari sanalah saya bisa makan dan sekolah. Kehidupan seperti ini mendidik
saya menjadi orang yang terampil dan tekun. Siang dan malam saya gunakan untuk
belajar formal dan menimba ilmu agama. Pagi saya sekolah (SDN Jatipamor 1),
siang saya sekolah madrasah (MD Al-Munawar Sunapulo), dan malam saya mengaji di
masjid (Al-Anshar). Jatah uang jajan dari nenek hanya Rp.500. Sekalinya ada
biaya sekolah dan keperluan lain saya harus inisiatif mencari uang sendiri
mulai dari jadi pengasuh anak, jualan es di sekolah, sampai memulung buah cengkeh
yang jatuh dari pohon cengkeh di kebun-kebun sekitar rumah. Beruntunglah saya
dikaruniai Alloh punya suara yang cukup merdu sampai saya menjadi tim vokal
inti dari grup Nasyid Al-Anshar sehingga kalau kampung lagi ramai-ramainya
hajatan pastilah grup kami dipanggil untuk mengisi acara. Lumayan banjir duit
untuk sementara waktu. Namun, kabar terakhir membua saya terpukul. Pelatih
nasyid kami, A Nano, sekarang dipenjara karena diduga terlibat kasus korupsi
uang desa semenjak dia menjadi kepala desa. Semuanya saya lakukan agar saya
dapat tetap sekolah.
Nenek
meninggal dunia di akhir saya kelas enam, beberapa hari sebelum ujian akhir
dilaksanakan. Saya seperti menjadi orang yang buta arah, tidak tahu kemana
harus melangkah dan berlindung. Nenek sang pendidik sejati, sang pengajar arti
hidup yang sebenarnya. Bahwasanya benar kalau hidup itu adalah buah dari
perjuangan yang harus berpondasi agama, ilmu, cinta, dan sunnah nabi.
Bahwasanya hidup tanpa agama hampa, hidup tanpa ilmu sengsara, hidup tanpa
cinta merana, dan hidup tanpa sunnah nabi hina. Pepatah itu saya jadikan motto
hidup sampai saat ini.
Saya
melanjutkan sekolah ke SMPN 2 Baleendah di Bandung. Hidup di Bandung adalah
permintaan pribadi saya kepada ayah saya yang beberapa tahun kebelakang
merantau di Bandung buka warung tegal. Kehidupan sangat berjalan biasa saja.
Boleh dikatakan masa ini adalah tingkatan kehidupan saya yang flat, lebih parah dari itu sampai pada
titik terendah positif kurva persamaan kuadrat. Hanya satu mungkin yang jadi
kebanggan yaitu saya dapat hidup mandiri tanpa orang tua dan bekerja paruh
waktu dengan selalu ada di peringkat tiga besar kelas.
Sampailah
saya pada suatu masa dimana mimpi, cita, dan harapan satu persatu menghampiri. Sekolah
itu bernama SMAN 1 Baleendah. Belajar, mentoring, berorganisasi telah
meghidupkan dan membangunkan saya dari tidur yang berkepanjangan semasa SMP. Dimulai
dari Orbit At-Tarbiyah, organisasi berbasis islam yang mengajarkan saya arti
uhkuwah. Bertemu sosok-sosok inspiratif yang mengajarkan saya untuk berani
bermimpi dan siap aksi menjadi pemimpin masa depan pembawa perubahan. Kehidupan
agamis membuat saya belajar mengenal islam lebih dalam. Tak pernah saya
pedulikan kata-kata orang kalau anak rohis bisanya hanya bias ngaji dan ceramah
agama. Terang saya katakana tidak!. Kami adalah orang-orang dengan sejuta
optimis untuk umat generasi pemegang tali agama islam agar tetap sampai ke
masyarakat, tetapi kami tetap berprestasi. Olimpiade, beasiswa luar negeri, dan
ujian saringan masuk di perguruan tinggi dari organisasi kami yang paling
mendominasi. Sebab kami bersama tuhan sang pencipta Alloh SWT. Benar pepatah
mengatakan bahwasanya orang sukses adalah dari mereka yang dekat dengan
tuhannya dan telah menyentuh titik spiritual dalam kehidupannya. Saya rasa
itulah kami, anak rohis. Saya katakan bahwa saya telah tahu siapa saya
sebenarnya dan mau jadi apa saya di masa mendatang. Semenjak itu, deretan
prestasi mulai dari tingkat sekolah sampai nasional saya raih. Berikut saya
sajikan beberapa prestasi non-akademik yang saya raih semasa SMA
1.
Juara 1 Lomba Menulis sastra non-fiksi
tingkat Kab.Bandung (2010)
2.
Juara 2 Lomba Baca Tulis Sastra dalam
Aksara Sunda-Jawa tingkat Kab.Bandung (2011)
3.
Peraih Beasiswa Percikan Iman dua
periode berturut-turut (2010-2011)
4.
Juara 5 Lomba Menulis sastra non-fiksi
tingkat Provinsi Jawa Barat (2011)
5.
Peraih Beasiswa koran Pikiran Rakyat (2012)
6.
Peraih Beasiswa EL05 Foundation STEI
ITB (2012)
7.
Delegasi Konfrensi Nasional “Young
Enterpreneurship” dari USB International Enterpreneur School (2012) wakil Kota
Bandung
Saat-saat
paling memilukan pernah kurasakan serasa saya sedang berada ditengah-tengah
jalan antara bukit dan jurang. Kondisi yang memaksa mengkondisikan dua pilihan,
kuliah dengan beasiswa atau tidak sama sekali. Namun, kobaran semangat, beribu
doa, restu ibu dan bapak, itulah bekal saya selain belajar. Beruntung pula
waktu itu saya dapat bimbel gratis dari GO (Ganesha
Operation) sampai SNMPTN. Sekedar informasi, bimbel gratis itu saya dapat
dari koran Pikiran Rakyat yang
menjalin mitra dengan sekolah saya. Singkatnya, setiap yang mendapat peringkat
satu di semester empat akan diberi uang sebesar Rp.4.500.000 yang akan langsung
digunakan untuk biaya bimbel persiapan masuk perguruan tinggi. Alhamdulillah
sekali saya diberi kesempatan oleh Alloh untuk mendapatkan beasiswa itu.
Belajar,
belajar, dan belajar. Berdoa, berdoa, dan berdoa. Ibu, ibu, dan ibu.
Air mata sang ibu yang menangis memohon kepada sang mahaa kuasa agar anaknya bisa kuliah. Siang dan malam berdoa dan berserah sebab dari dia lah segala sesuatu. Beliau tirakat dan puasa agar apa yang beliau minta dapat terkabul. Waktu itu memang saya sakit tifus sehingga saya baru benar-benar belajar tiga minggu sebelum SNMPTN dilaksanakan. Hanya pasrah kepada sang maha kuasa semoga doa ibu saya dikabulkan Alloh. SNMPTN tiba dan saya hanya mengisi sebisa saya dan yang saya yakini benar. Pilihan pertama ITB sudah jelas tidak mungkin masuk, namun masih ada harapan di pilihan dua yaitu ITS jurusan Teknik Material dan Metalurgi, walupun kesempatan lulusnya kecil dilihat dari jumlah pendaftar yang ribuan dengan daya tampung yang hanya 18 orang bagi pendaftar Beasiswa Bidikmisi seperti saya.
Tapi kabar gembira itu dating, saya lulus SNMPTN di JTMM ITS. Alhamdulillah, segala puji bagimu ya Alloh. Terima kasih ibu, doamu telah Alloh kabulkan. Sungguh jasamu tiada tara.
Air mata sang ibu yang menangis memohon kepada sang mahaa kuasa agar anaknya bisa kuliah. Siang dan malam berdoa dan berserah sebab dari dia lah segala sesuatu. Beliau tirakat dan puasa agar apa yang beliau minta dapat terkabul. Waktu itu memang saya sakit tifus sehingga saya baru benar-benar belajar tiga minggu sebelum SNMPTN dilaksanakan. Hanya pasrah kepada sang maha kuasa semoga doa ibu saya dikabulkan Alloh. SNMPTN tiba dan saya hanya mengisi sebisa saya dan yang saya yakini benar. Pilihan pertama ITB sudah jelas tidak mungkin masuk, namun masih ada harapan di pilihan dua yaitu ITS jurusan Teknik Material dan Metalurgi, walupun kesempatan lulusnya kecil dilihat dari jumlah pendaftar yang ribuan dengan daya tampung yang hanya 18 orang bagi pendaftar Beasiswa Bidikmisi seperti saya.
Tapi kabar gembira itu dating, saya lulus SNMPTN di JTMM ITS. Alhamdulillah, segala puji bagimu ya Alloh. Terima kasih ibu, doamu telah Alloh kabulkan. Sungguh jasamu tiada tara.
Sebenarnya
saya masih bingung bagaimana saya bisa lulus dengan nilai saya yang mungkin
tidak mencapai passing grade yang
sudah saya cocokan dengan kunci jawaban yang ada. Akan tetapi, maha besar Alloh
yang tidak ada satu pun yang mampu menghalangi kehendaknya. Keanehan itu benar,
ternyata ketika saya daftar ulang di ITS, laman registrasi menyatakan
bahwasanya saya diterima di kampus ITS ini jalur PMDK. Padahal saya sebelumnya
gagal di PMDK ketika memilih FITB di ITB dan JTMM di ITS. Saya hanya bisa
bersyukur dan belajar. Menggapai mimpi saya selanjutnya yaitu Kyodai (Kyoto
Daigaku) resminya Kyoto University of Japan melanjutkan program magister.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar